BANDAR LAMPUNG — Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan pembangunan jalan tol tidak boleh hanya berorientasi pada peningkatan konektivitas.
Infrastruktur tersebut harus mampu memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat, mulai dari menghubungkan sentra produksi dengan pasar hingga membuka peluang investasi dan meningkatkan kesejahteraan.
Hal itu disampaikan Gubernur Mirza saat membuka Pengukuhan Pengurus Forum Ekosistem Jaringan Tol Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) dan Focus Group Discussion (FGD) Nasional bertema “Jalan Tol untuk Apa dan Siapa?” di Ballroom Hotel Grand Mercure Bandar Lampung, Sabtu (3/10/2026).
Menurut Mirza, tema FGD tersebut menjadi pertanyaan mendasar untuk mengevaluasi kembali orientasi pembangunan jalan tol. Keberadaan jalan tol, kata dia, harus memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah, terutama bagi petani dan pelaku usaha lokal.
«“Jalan tol bukan sekadar menghubungkan kota, tetapi menghubungkan produksi dan pasar, investasi dan peluang, serta konektivitas dengan kesejahteraan,” ujar Mirza.»
Ia menjelaskan, peningkatan akses transportasi harus berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi daerah. Sebab, konektivitas yang semakin terbuka tanpa dibarengi kebijakan yang tepat justru dapat meningkatkan persaingan bagi pelaku usaha lokal, termasuk sektor pertanian dan industri pengolahan.
Karena itu, Pemprov Lampung terus mendorong hilirisasi komoditas unggulan daerah. Produk pertanian maupun komoditas lainnya tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Dengan langkah tersebut, manfaat ekonomi diharapkan tidak berhenti pada sektor produksi, tetapi juga berkembang pada sektor pengolahan, distribusi, perdagangan, hingga penciptaan lapangan kerja.
«“Tol dipakai untuk mengubah struktur PDRB kami. Dari sektor primer kami dorong hilirisasi menjadi sektor industri olahan,” katanya.»
Selain sektor pertanian dan industri, Mirza menilai jalan tol memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan sektor pariwisata. Ia menyebut jumlah kunjungan wisatawan ke Lampung meningkat dari sekitar 17 juta orang pada 2024 menjadi 27 juta orang pada 2025.
Menurutnya, peningkatan kunjungan tersebut menunjukkan besarnya potensi pergerakan ekonomi yang dapat diperkuat melalui konektivitas transportasi.
Namun, manfaat jalan tol tidak akan maksimal apabila tidak didukung jaringan jalan yang memadai. Akses dari kawasan produksi, permukiman, maupun destinasi wisata menuju gerbang tol harus terus diperbaiki.
Karena itu, peningkatan kualitas jalan provinsi, kabupaten hingga desa dinilai menjadi bagian penting dalam memastikan konektivitas jalan tol benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dalam pengembangan kawasan industri, Mirza juga menyebut akses terhadap jalan tol menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor. Pemprov Lampung, lanjutnya, mendorong rencana pembangunan ruas Tol Lematang–Panjang sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas kawasan industri dengan Pelabuhan Panjang.
Ia berharap FGD nasional tersebut tidak berhenti sebatas pertukaran gagasan. Forum tersebut diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi konkret dan berbasis data yang dapat menjadi masukan dalam pengembangan jaringan jalan tol sekaligus mendukung pembangunan ekonomi daerah.
«“Hasilkan data, hasilkan rekomendasi, hasilkan model, dan yang paling penting hasilkan perubahan yang dapat dirasakan oleh masyarakat,” tegasnya.»
Sementara itu, Ketua Umum MTI Haris Muhammadun mengatakan jalan tol memiliki posisi strategis sebagai pendorong percepatan pertumbuhan ekonomi wilayah. Karena itu, pengembangan ekosistem jalan tol membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.
Kolaborasi tersebut mencakup pemerintah, badan usaha jalan tol, akademisi, praktisi, pelaku usaha, media, hingga masyarakat sebagai pengguna dan penerima manfaat infrastruktur.
Haris mengatakan pengukuhan Pengurus Forum Ekosistem Jaringan Jalan Tol MTI di Bandar Lampung juga memiliki makna strategis. Kegiatan tersebut berkaitan dengan penetapan Bandar Lampung sebagai tuan rumah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) MTI 2027.
«“Semua praktisi dan akademisi yang hadir di sini hanya satu keinginan, yaitu memajukan ekosistem jaringan jalan tol agar bisa mengeskalasi pertumbuhan ekonomi, terutama pertumbuhan ekonomi yang ada di wilayah Provinsi Lampung dan Sumatera,” ujar Haris.»
FGD Nasional tersebut menjadi wadah kolaborasi lintas sektor untuk membahas berbagai aspek pembangunan jalan tol, mulai dari dampaknya terhadap perekonomian, distribusi logistik, keselamatan, produktivitas, hingga pengembangan wilayah.
Melalui pembahasan berbasis data dan kolaborasi lintas sektor, forum tersebut diharapkan mampu melahirkan rekomendasi serta langkah konkret agar pembangunan jalan tol tidak hanya mempercepat perjalanan, tetapi juga memperluas kesempatan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



